Tewasnya Ojol Jadi Simbol Ketidakadilan Sosial

Kematian seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (21) dalam insiden dengan kendaraan taktis Brimob telah mengguncang hati publik. Peristiwa tragis ini bukan hanya dilihat sebagai kecelakaan, melainkan dianggap sebagai simbol nyata ketidakadilan sosial yang semakin menumpuk di tengah masyarakat.

Gelombang Aksi di Berbagai Kota

Sejak kabar meninggalnya Affan menyebar, ribuan massa turun ke jalan. Mahasiswa, buruh, hingga komunitas ojek online bersatu menyuarakan protes. Mereka menuntut keadilan, meminta investigasi transparan, dan mendesak aparat bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Aksi ini kian meluas ke berbagai kota besar, menandakan adanya ketidakpuasan yang lebih dalam terhadap kondisi sosial-politik saat ini.

Simbol Ketidakadilan yang Mengakar

Bagi banyak orang, nasib Affan mencerminkan potret ketidakadilan yang kerap dialami masyarakat kecil. Dari isu kemiskinan, beban ekonomi, hingga perlakuan aparat yang dianggap represif, tragedi ini seolah menjadi pemicu ledakan amarah kolektif. Tidak sedikit yang menyebut bahwa kasus ini menjadi “pemantik” dari masalah yang selama ini terpendam.

Seruan Ketenangan dari Pemerintah

Presiden Prabowo Subianto telah menyerukan agar masyarakat menahan emosi dan menjaga ketertiban. Meski demikian, suara publik tetap lantang menuntut agar pemerintah memastikan proses hukum berjalan adil, transparan, dan tanpa intervensi. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum kini menjadi ujian serius.

Media Sosial Jadi Gelombang Solidaritas

Di media sosial, ribuan unggahan dengan tagar solidaritas untuk Affan terus mengalir. Dukungan moral, video aksi demonstrasi, hingga pesan-pesan duka menjadi viral. Fenomena ini memperlihatkan bahwa isu ini bukan sekadar tragedi personal, tetapi telah berubah menjadi simbol perjuangan rakyat kecil melawan ketidakadilan.

Harapan Akan Perubahan

Tragedi Affan diharapkan menjadi momentum refleksi nasional. Publik menuntut adanya perbaikan dalam penanganan aksi demonstrasi, peningkatan akuntabilitas aparat, serta kebijakan yang lebih berpihak pada masyarakat kecil. Hanya dengan langkah konkret, luka sosial yang ditinggalkan bisa perlahan terobati.

By Omagah