Musim panas tahun 2025 berubah menjadi mimpi buruk bagi sejumlah negara di Eropa

Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan ini mengakibatkan suhu melonjak tajam hingga melampaui 45°C, memicu serangkaian kebakaran hutan besar di wilayah Mediterania. Akibatnya, setidaknya 2.300 orang di laporkan meninggal dunia, menjadikan musim panas ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Eropa modern.

Negara-negara seperti Prancis, Spanyol, Italia, Turki, dan Yunani menjadi wilayah yang paling terdampak.

Selain korban jiwa, ribuan penduduk terpaksa mengungsi dari rumah mereka, sementara puluhan ribu hektar hutan hangus terbakar. Asap tebal dan suhu yang tak terkendali membuat upaya pemadaman menjadi tantangan besar bagi otoritas setempat.

Menurut data dari European Environment Agency (EEA), lonjakan suhu ini merupakan dampak nyata dari perubahan iklim global yang semakin tak terbendung. Pola cuaca ekstrem kini menjadi lebih sering terjadi dan lebih berbahaya dari tahun ke tahun. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika tidak ada langkah konkret untuk mengurangi emisi karbon dan deforestasi, bencana semacam ini akan menjadi “new normal”.

Kebakaran di kawasan hutan Spanyol dan Italia di sebut-sebut sebagai yang paling parah dalam dua dekade terakhir. Banyak wilayah pedesaan dan kawasan wisata populer mengalami kerusakan parah, termasuk evakuasi besar-besaran di Costa Brava, Nice, dan pulau-pulau di Laut Aegea.

Sementara itu, rumah sakit kewalahan menangani korban yang menderita heatstroke, gangguan pernapasan akibat asap, dan luka bakar. Pemerintah setempat telah mengumumkan status darurat dan meminta bantuan dari Uni Eropa untuk memperkuat armada pemadam kebakaran udara serta mempercepat pengiriman bantuan logistik bagi para pengungsi.

Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan, menghindari aktivitas luar ruangan, dan memantau informasi cuaca terbaru secara berkala. Di beberapa kota besar, fasilitas pendingin ruangan umum di buka gratis, termasuk stadion, perpustakaan, dan pusat komunitas.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan krisis nyata yang sedang terjadi. Dunia internasional pun mulai menyoroti kebutuhan mendesak untuk mempercepat transisi energi ramah lingkungan dan memperkuat sistem tanggap darurat bencana di seluruh du

By Omagah