Dikepung Air! Maluku & Papua Dilanda Banjir Hebat Akibat Hujan Nonstop 48 Jam

Maluku dan Papua saat ini tengah menghadapi salah satu bencana alam terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut tanpa henti selama 48 jam penuh telah menyebabkan banjir parah di berbagai daerah. Ribuan rumah terendam, akses transportasi lumpuh, dan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Bencana Dimulai dari Guyuran Hujan Ekstrem

Menurut data dari BMKG, curah hujan dalam dua hari terakhir mencapai tingkat ekstrem yang jarang terjadi. Sistem drainase yang buruk dan kontur tanah yang berbukit membuat air cepat meluap ke permukiman warga. Di wilayah Maluku Tengah, ketinggian air bahkan mencapai lebih dari satu meter, sementara di Papua, beberapa desa terisolasi akibat jalan utama yang tertutup air dan lumpur.

Evakuasi Massal dan Kerusakan Infrastruktur

Tim SAR, BPBD, dan relawan lokal terus berupaya melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir. Hingga hari ini, tercatat lebih dari 3.000 warga telah dievakuasi dari daerah rawan longsor dan banjir. Sementara itu, beberapa jembatan penghubung antar-kampung dilaporkan ambruk diterjang arus deras.

“Situasinya sangat sulit. Kami harus menggendong lansia dan anak-anak keluar dari rumah mereka karena arus air terlalu kuat,” ujar salah satu relawan di Kabupaten Mimika, Papua.

Pemerintah Tetapkan Status Darurat Bencana

Menanggapi kondisi ini, pemerintah daerah Maluku dan Papua resmi menetapkan status Darurat Bencana Alam. Bantuan logistik seperti makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan telah mulai didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian. Namun, kondisi jalan yang terputus menjadi tantangan besar dalam penyaluran bantuan.

Presiden Joko Widodo turut menyampaikan belasungkawa dan menyatakan bahwa pemerintah pusat siap membantu percepatan pemulihan infrastruktur dan bantuan kemanusiaan.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Selain menimbulkan kerugian fisik, banjir ini juga menghantam sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut. Lahan pertanian rusak parah, dan banyak nelayan tidak bisa melaut karena cuaca ekstrem dan ombak tinggi.

Lingkungan juga terkena imbasnya. Lumpur dan sampah yang terbawa banjir mengancam ekosistem sungai dan pantai.

Imbauan untuk Tetap Waspada

BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Warga diminta untuk tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di daerah lereng bukit, bantaran sungai, dan wilayah rawan longsor.

Penutup

Banjir Maluku dan Papua kali ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan minimnya infrastruktur penanggulangan bencana dapat memperparah situasi di masa mendatang. Diperlukan koordinasi lintas sektor, kesadaran masyarakat, dan aksi nyata dari pemerintah untuk mengantisipasi bencana serupa ke depannya.

By Omagah